TEHERAN – Situasi di Timur Tengah kembali memanas setelah militer Iran mengklaim telah melancarkan serangan drone berskala besar ke Camp Doha, sebuah instalasi militer strategis Amerika Serikat di Kuwait. Klaim tersebut dirilis oleh kantor berita Tasnim berdasarkan pernyataan resmi militer Iran pada Rabu (22/7/2026).
Serangan ini dilaporkan menargetkan depot amunisi dan fasilitas logistik Angkatan Darat AS menggunakan sejumlah besar drone tempur. Pihak Teheran menyatakan bahwa operasi ini merupakan respons langsung terhadap rentetan agresi Amerika Serikat di kawasan tersebut. Militer Iran juga menegaskan kesiapannya untuk memberikan respons yang lebih tegas terhadap setiap aksi provokatif baru dari Washington.
Ketegangan ini semakin meruncing menyusul ancaman terbuka dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). IRGC memperingatkan bahwa seluruh aset dan kepentingan Amerika Serikat beserta sekutunya akan menjadi sasaran sah jika fasilitas nuklir Iran diserang. Senada dengan hal tersebut, Markas Besar Militer Khatam Al Anbiya menegaskan bahwa gangguan terhadap infrastruktur strategis Iran akan dianggap sebagai pemicu perluasan perang secara total.
Konflik terbuka antara Amerika Serikat dan Iran semakin memanas dengan aksi saling serang intensif, pemboman beruntun, dan lonjakan harga minyak dunia.
Amerika Serikat menggempur Iran selama 12 malam berturut-turut, menargetkan fasilitas militer, sistem pertahanan udara, jembatan, hingga infrastruktur logistik.
Pasukan Iran dan kelompok sekutunya melancarkan serangan drone serta rudal balistik ke pangkalan militer dan aset strategis AS di kawasan Teluk, termasuk Kuwait, Bahrain, dan Arab Saudi.
Operasi militer AS di Iran dilaporkan telah menelan biaya sangat besar hingga mencapai 37,5 miliar dolar AS, memicu kritik di parlemen Amerika.-***





